January Christy

Masa-Masa Rekaman Awal: January Christy Bersama Harry Roesli

Januari 2022 terbaik dengan harta karun yang dibuka dari January Christy. 

Bermula dari kedatangan Harry Roesli menemui Adi Nugroho (Pro Sound Records), yang menyatakan ingin merekam seorang penyanyi asal Bandung bernama January Christy.

Harry Roesli dan Adi Nugroho memang berkawan. Adi justru mempersilakan Harry untuk merekam di studionya. Itulah pertama kalinya Adi berkenalan dengan January. Rekaman berlangsung pada 1985 dan sejarah mengatakan bahwa album itu tak kunjung rilis, hingga hari ini.

James F. Sundah, saat itu menjadi A&R Pro Sound, kemudian mengusulkan untuk merekam Januay Christy. Erwin Gutawa dipercaya menjadi penata musik, sejumlah pengarang lagu dan musisi bekerja bersama, maka lahirlah debut album Melayang pada 1986.

Lagu “Melayang” melambungkan nama January Christy. Karakternya sangat khas: bersuara berat, rambut bondol, berkaca mata, berbusana preppy mendekati androginy, menyanyikan lagu-lagu pop jazz dengan lirik-lirik reflektif yang banyak bicara tentang pergulatan sanubari.

January Christy kemudian merilis album-album berikutnya: Aku Ini Punya Siapa (1987), Mana (1989), dan Tutup Mata(1991), juga sebuah album kompilasi Putra Sang Fajar (2001). Sejak awal karir rekamannya, sejumlah pengarang lagu menyublim bersama diri January, di antaranya James F. Sundah, Dodo Zakara, Dian Pramana Putra, Deddy Dhukun, Herman Gelly, Chris Manusama, Bagoes A. A., Candra Darusman, dan Erwin Gutawa—nama terakhir selalu ada menata album-albumnya, menghasilkan karya-karya abadi. January menjadi sosok ikonik yang tersendiri bagi musik populer Indonesia.

Tapi ternyata, sebelum itu semua terjadi, rekaman awal January Christy adalah bersama Harry Roesli.

Ya, Harry Roesli!

Musik popuper Indonesia menyimpan berjuta rahasia terpendam, yang kerap memberi kejutan-kejutan tinggi. Tapi “penemuan” kali ini bisa jadi salah satu harta karun peristiwa studio rekaman yang paling tersimpan rapat.

Harry Roesli menulis lagu dan memproduseri album January Christy. Sebelas lagu yang direkam kini dirilis dengan tajuk Unreleased Tracks from 1985 dalam format layanan digital streaming dan piringan hitam.

Davvy Linggar membuat lukisan January Christy untuk sampul album ini. Karya itu sempat dipamerkan pada Art Basel 2021di Hong Kong. Agra Satria menjadi desainer kemasan album, juga membuat video lirik untuk single pertama, “Christy”.

Bagaimana bunyi album ini?

January Christy yang sama tapi beda!

Lagu pertama saja, “Christy” sudah sangat istimewa, dan buat penggemar jadi terasa semakin personal. “Christy” adalah catatan gejolak diri January sejak masa awal karirnya untuk menemui masa depan yang kala itu belum ada. Piano menjadi pengantar penguatan diri akan gentar, dan vokal January setiap kali menyebut kata “Christy” seolah tertutup dan samar. Karakter dan attitude January Christy yang terekam mungkin yang paling murni.

Seperti jejak January Christy pada lagu-lagu dari album lainnya yang lirik-liriknya kerap kali “sangat January Christy”, bersama Harry Roesli bahkan betul-betul menjadi lagu khusus untuk langkah mula-mula rekaman.

Christy… berikanlah hasratmu

Christy..  hidupmu jangan sayu

Christy… garis merah di depan seanggun purnama, Christy    

 

Christy… gelisahmu hilangkan

Christy… kenali denyut nadi

Christy… bawa sukmamu terbang tinggalkan yang lalu segera

 

Sejuta bintang menantimu, Christy

Sejuta kagum kau dapati, Christy

Sedepa langkah lakukanlah, Christy

Kau kan terbang tinggi

 

Christy… nyalakanlah hatimu

Christy… terangi sanubari

Christy… jalinlah rasa ini agar engkau yakin, Christy

 

Christy…  hujan pun akan reda

Christy… ciumlah fajar pagi

Christy… jangan kau ingat dia

Jalanlah sendiri, Christy

 

Christy… tegarlah kau, Christy

 

Lagu kedua, “Dusta”.  Dalam lagu yang mengajak mengehentakkan kaki, vokal January Christy dapat memperkuat paket attitude-nya. Di tangan Harry Roesli, sofistikasi dan slebor menjadi kesatuan untuk gejolak yang dimulai dari bait pertama:

 

Kami bertanya, kamu jawab dusta

Di manakah kebenaran tercecer di jalan?

 

Suara January Christy betul-betul diletakkan di depan untuk sebuah lagu singkat “Siapakah Aku”, dilanjutkan dengan synthesizer melayang-layang dan derap bassline dengan aksen meliuk untuk “Kereta”.

 

Kami mengayun, terantuk batu

Hampir saja hilang keseimbangan

Oh, memang batu tadi, batu hambatan

Kami tendang sampai ke luar dunia 

 

Divisi lirik pada album ini dapat dikatakan salah satu yang tersendiri, bahkan untuk lirik-lirik January Christy yang memang kerap menjadi terbaik dalam risau untuk musik pop jazz Indonesia. Dari judulnya saja, lagu bernama “Kaki Langit Bumi Yang Miring Kini Bertambah Kering” menguatkan kesan itu. January kembali bicara tentang dosa di dunia.

Lagu berikutnya, “Malam Menjelang” dengan piano elektrik dan drum yang tenang mengiring memberikan rasa sepi. “Embun di hati mencair jika kau mengerti,” lantun January diikuti penjelajahan interlude yang damai pun tinggi.

Lagu ketujuh, “Saat Tiba Untuk Berpisah Selamanya” adalah salah satu ekspresi gelisah January Christy yang paling kuat dalam menakar sebuah hubungan. Lirik ini adalah penggambaran resahnya…

 

Memang tak ada jalan menuju hatimu

Karena hatimu tidak berpintu

 

Bunyi-bunyian planet seberang dalam bossanova datang pada gilirannya dalam komposisi “Ratna Cinta”. Hi-hat drum bagai pinggir-pinggir semesta untuk suara bulat-berat January Christy yang mengapung menjadi pusarannya.

Di lagu berikutnya,“Fame”, cara bernyanyi January Christy menjadi lebih bluesy, membuat rekaman ini semakin berharga. Sementara lagu “Hidup” dalam durasi dua menit dan lima puluh tiga detik, betul-betul rekaman January Christy dalam warna renungan yang luar biasa. Jangan-jangan ini salah satu kerja pop terbaik Harry Roesli semasa hidupnya.

Album ini sebetulnya ditutup dengan “Fajar Doa”, satu lagi atraksi vokal January Christy, tapi rupanya January Christy Unreleased Tracks From 1985 memberikan bonus dengan menyertakan jua hit terbesar Christy, “Melayang”.

Januari 2022 terbaik dengan harta karun yang dibuka dari January Christy.

 

 

More Stories
Clever Moose
Clever Moose: Reality Back and Forth