The Sounds Project 2024
Deni Taufiq Adi

Rekaman Primitif Deni Taufiq Adi

Rekaman primitif puitis pakai komputer rumah, terbuka, samar, dalam diri, dalam kamar Deni Taufiq Adi

“Gue baru rekam satu lagu, rencana pengen tiga lagi,” Deni Taufiq Adi mengabarkan saya via WA pada 5 Januari 2023.

Bogor, ada tampias anti-folk apa hari ini?

Dia mengirim “Rima Cekik”.  Cara Deni bernyanyi seperti mengutarakan pernyataan guram: “Aku benalu/mencekik dirimu/Tak punya malu/Raga membiru”. Saya putar. Saya suka mesin drum itu berputar seperti kereta besi dengan tubuh berat melaju. Pada pertengahan lagu, muncul ukulele yang konstan dan menggila; walau diletakkan tidak di depan namun cukup untuk mengingat letup emosi setiap adegan Mang Udel bermain ukulele di film Ateng Mata Keranjang (Asrul Sani, 1975).

“Lo take pake apa, Den?” tanya saya.

“Laptop butut hahaha,” jawabnya.

Deni memasukkan suara drum machine ke speaker PC yang sudah pecah, lalu ditodong mikrofon. Suara itu yang mengiringi sepanjang lorong lagu. Dia hanya menambahkan sedikit gitar dan, ya, ukulele yang peruntukannya jauh dari untuk membuat suasana senja dengan matahari semakin oranye.

Pada 14 Februari 2023, Deni kembali mengontak saya dengan berita rekaman rampung. Bukan tiga, melainkan tujuh lagu tambahan dikirimkannya.

Lagu “Air Laut Asin” seperti Beat Happening yang lebih gelap lagi. “Pecah” seperti Bob Dylan tapi sebetulnya Lou Barlow dan meresahkan dirinya sendiri, dalam satu menit dan tiga puluh detik. “Rumput Tubuh di atas Kepalaku” adalah pencukilan masa awal hip-hop tapi fidelitasnya sebawah mikrofon karaoke rumahan yang dicolok ke compo loak yang hampir mati tapi berhasil diakalin, liriknya terdengar samar, durasi 49 detik.

Lagu “Box Cutter & Obat Tidur” adalah waltz-melankoli-minimalis-dengan atmosfer yang kena, atau dalam bahasa menu selera saya: lagu pop yang sedap. “Jerami” adalah lamunan ringkas yang lamban, seperti terselip dalam kaset Daniel Johnston delapan puluhan, yang pitanya dikasih kapas. Sementara “Tertelan” punya notasi sederhana yang mudah membayangi, berhari-hari.

Makan siang dengan metformin

Tertidur depan PC

Terbangun dengarkan suara ollie

Jadwal stream Minekura jam tiga

Sedangkan lagu “Agustusan”, Deni mengingatnya bahwa “Gue gak yakin sama tuh lagu, tadinya udah mau gue buang. Baru kali ini nulis lagu agak topical, makanya ditaro di belakang banget.”

Untung saja Deni tidak membuangnya. “Agustusan” yang naratif, kisah apes yang terang dalam sekali dengar itu, menjadi warna tersendiri di album ini.

Tiga hari menuju 17 Agustus

Kemeja, celana, semua tersetrika mulus

KRL Bogor-Jakarta, keluar-keluar semua kusut

Sesampainya di sana semua bertanya, “Apa kabar anak-istri di rumah?”

Nyalakan komputer, siap jalani hari

E-mail internal: “Bapak ingin bertemu denganmu”

Promosi kenaikan gaji atau yang lain lagi?

Yang terlontar hanyalah, “Kita sedang merugi. Maaf kau tak lagi di sini. Terima kasih.”

Deni Taufiq Adi

Delapan lagu terbaru Deni itu termuat adalam album yang diberi judul Kekerasan, Matematika, Apoptosis, dan Hidup Nyaman.  Tarsius Records (sub label dari Anoa Records) merilis album ini secara digital pada April 2023.

”Kata-kata yang ngebentuk album ini: sesuatu yang gue inginkan (hidup nyaman), sesuatu yang gue benci (matematika), hal yang terus-terusan gue consume di media voluntarily dan involuntarily (kekerasan), hal yang tak terhindarkan (apoptosis),” jelas Deni dalam siaran pers yang dilayangkan Tarsius Records.

Mengikuti kiprah Deni dari era ia masih bersama unit indie rock Reid Voltus, kemudian duonya bersama Melly, Sex Sux, lalu solonya dengan moniker Water Sport, sampai kemudian menggunakan namanya sendiri untuk rilisan-rilisannya, Deni Taufiq Adi. Dengan mula terkesan pada Reid Voltus, bagai sebuah petualangan mendengar gerakan musik Deni dari fase ke fasenya.

Rekaman primitifnya kali ini, terima kasih kepada drum machine, bisa jadi suasananya lebih puitis dari sebelumnya. Bersama kehadiran album Kekerasan, Matematika, Apoptosis, dan Hidup Nyaman, saya mengobrol dengan Deni Taufiq Adi via WA. Silakan baca sampai selesai, dan mungkin saat itu Deni sedang merekam sebuah lagu lagi di kamarnya—kucingnya ada di sekitarnya.

Lo lahir tahun berapa ya?

1985

Pertama kali lo bisa suka sama musik? Pertama kali kesengsem?

Awalnya sih ikut-ikut aja, abang gw suka Duran Duran, gw jadi suka Duran Duran,  sampai sekarang lumayan hafal lagu-lagunya. Tapi band pertama yang gw bener-benar suka itu Blur. Gw inget pulang sekolah lihat video klip “Song 2”, dan saat itu mungkin hal yang bikin gw pengen kayak gitu. Langsung pas weekend cari album-albumnya Blur.

Ikut abang lo suka Duran Duran itu umur berapa?

Dari pra-TK.

Kalau lihat video klip “Song 2” itu lo kelas berapa?

SMP kelas satu. Awal-awal gw baru pindah ke Bogor.

Tadinya lo tinggal di mana, Den?

Dari umur tiga tahun sampe lulus SD di Jakarta.

Setelah menonton video klip “Song 2”, kaset Blur apa yang lo beli?

Self-titled sama Great Escape. Terus setelah itu nyicil yang lain.

Langsung dua album tuh?

Yoi. Great Escape gw beli dua kali, sempet dipinjem kagak balik, sedih banget. Kaset juga masih murah sih dulu, masih 7000-an.

Dua album Blur itu kaset pertama yang lo beli?

Ya. Sebelumnya sih pernah pas ulang tahun dikadoin kaset Padhyangan Project, pas SD. Kalau yang bener-bener gw beli make uang jajan ya kaset Blur tadi.

Karena belinya barengan, album mana yang lebih sering lo putar saat itu?

Kayaknya yang self-titled deh, kerasa kayak dua band yang beda pas pertama dengar hahaha.

Saat itu lo punya teman dengar Blur bareng gak?

Ada. Angkatan gw pas SMP lumayan lagi in dengerin musik-musik alternative/Britpop, pada nonton MTV Alternative Nation kali yak.

Kalau main alat musik, pertama kali bisa apa dan kapan?

Bas, jaman SMP juga. Diajakin nge-band sama teman, gw males belajar gitar, kayanya ribet. Gak mau main drum, belajarnya mahal. Ogah nyanyi. Dan gw pikir bas senarnya empat, jadi lebih gampang. Taunya ga segampang itu juga.

Pertama nge-band kelas berapa, Den?

Kelas 1, cover Nirvana.

Nama band-nya apa?

Slither, cuma salah spelling jadi Seliter.

Seliter pernah manggung di mana?

Gak pernah, latihan doang.

Dari Seliter, band lo berikutnya apa?

Ada, cover Oasis, namanya Supersonic. Padahal gw ga suka Oasis amat.  Biasa aja gitu sama Oasis, ikut band-nya karena pengen nge-band aja. Jaman itu mah kan propaganda Blur vs Oasis, dan gw tim Blur.

Supersonic pas lo kelas berapa?

Kelas 2. Sempat manggung di acara sekolah dua kali. Kakak gw masih punya tuh video pas kita manggung, kedengerannya kayak The Shaggs nge-cover Oasis.

Hahay. Lo main alat apa, Den?

Masih bas.

Setelah Supersonic, band lo apa lagi?

Lama setelah itu, di SMA, sama The Rabbit. Agak peningkatan, bawain Ash sama mulai nulis lagu sendiri.

The Rabbit mulai SMA kelas berapa tuh, Den?

Kelas 1 SMA, sampe lulus SMA.

Lo main apa di The Rabbit?

Gitar.

Pernah manggung di mana aja The Rabbit?

Kebanyakan sih di festival-festival ga jelas gitu, yang kalau buat ikutan musti bayar.

Sempet main di acara sekolah juga kalau gak salah.

Masih ingat gimana cara bikin lagu pertama kali?

Ada lagu judulnya “Jam in La-la Land”, pas baru awal-awal belajar gitar. Masih ingat gue sama lagu itu, entah kenapa.

Lagunya kayak gimana modelannya, Den?

2 chord, modelan kaya apa juga gak jelas. Gak tau bener-benar.

Sempat dilatihanin gak bareng the Rabbit?

Nggak, gak cocok sama Rabbit. Lagian itu dulu banget, gak pernah gw tunjukin ke siapa-siapa.. hahaha.

Oh, bukan SMA bikinnya?

Pertama beli gitar, SMP. Baru belajar dua kord langsung hajar pengen bikin lagu.

Habis dengar apa gak tuh, Den?

Jaman itu mah kebanyakan gue dengernya Britpop; Blur, Pulp, Shed 7, Stone Roses, Echobelly, Suede, dll. Cuma karena Britpop lebih…. ada tekniknya ya, dan gue gak bisa main kayak Graham Coxon atau Bernard Butler, ya, jadi lagunya kayak gitu. Oh, sama dengerin Nirvana. Beruntung gue dengerin Nirvana. Tanpa Nirvana gue gak akan tau band/musisi yang beneran jadi influence saat ini kayak Sonic Youth, Daniel Johnston, Vaselines, sampai Bowie.

Nah, kalau sama The Rabbit ngarang lagunya gimana, Den?

Biasanya gue nulis sendiri, atau sama si vokalisnya. Hampir tiap weekend pas SMA sering banget se-band nginep di rumah vokalis gw. Kalau ada ide, tulis-tulis.

Ada berapa lagu kalian yang sudah dipanggungin?

2-3 lagu, sisanya cover Ash. Sempat bikin rekaman satu lagu juga.

Apa judul lagu yang direkam?

Bentar, gue ingat-ingat dulu. Anjir, lupa judulnya. Ada “Hari”-nya aja seingat gue.

Lagunya yang ngarang siapa, Den?

Vokalis gue kalau lagu itu.

Rekaman lagunya sempat dikirim ke radio-radio atau gimana?

Kaga, berantakan banget rekamannya. Gw sendiri juga gak ngerti deh itu rekaman buat apa, gak di kemana-manain juga.

Rekaman live?

Tracking. Satu shift, 8 jam. Satu lagu aja berantakan hahahaha… ngaco banget. Namanya juga anak muda.

Setelah The Rabbit, lo nge-band sama siapa?

Selanjutnya band garage rock gitu, sama tetangga gue di kompleks, modelan White Stripes, The Gories.

Ini lo sudah mulai masa kuliah?

Iya. Semester satu, 2003 gitu. Gak terlalu lama sih umurnya. tapi nama bandnya cool banget: Guava Revolution Club. Manggung beberapa kali, terus udahan.

Sempat rekaman?

Nggak. Itu bener-benar udahnya cepet, cuma nanti bassist-nya si band tadi jadi bassist-nya Reid Voltus.

Ok, setelah Guava Revolution Club, kiprah lo ke mana lagi tuh?

My Secret Identity.

Nah, itu terbentuknya kapan dan gimana?

Awalnya, temen SMA gw namanya Ricky nonton Guava Revolution Club manggung. Terus dia ngajakin bikin band, itu ga lama setelah Guava bubar jalan.

Personil lainnya siapa saja?

Ada tetangga gw namanya Surya maen drum, sepupu gw Arka maen keyboard, sama temen SMA/kuliah si drummernamanya Emir maen bas.

Lo dan Ricky posisinya apa?

Gw gitar, Ricky vokalis maen gitar juga.

My Secret Identity sempat rilis apa aja?

Pas gw masih di band itu sih sempet release EP. Setelahnya keknya mereka rilis full album, deh. Tapi pas album, gw udah keluar.

Lo sampai tahun berapa?

Dari 2003 sampe 2005.

Setelah itu lo ke mana lagi?

Reid Voltus.

Gimana cerita terbentuknya Reid Voltus?

Band-nya Idham waktu itu, Listric, beberapa kali manggung sama My Secret Identity. Jadi kita kayak sudah agak saling kenal satu sama lain. Terus, taunya drummer Listric satu jurusan kuliah sama gw, jadilah gw ikut dia nongkrong, dikenalin sama Idham dkk. Suatu hari Idham ngajakin bikin band noise rock hahaha, gw bilang “Kalau kayak Sonic Youth mah gw ajalah yang nyanyi”. Lama-lama sadar, kita gak punya equipment-nya buat bikin band noise rock, terus gue sama Idham dengerin album Sebadoh III, dan itu jadi blueprint-nya Reid Voltus.

Reid Voltus terbentuk tahun berapa dan formasinya siapa aja, Den?

2005. Awalnya gue, Idham, Poppie (bas), sama Ahong (drum)

Ini Poppie Duet Maoets/ERK dan Ahong The Kuda kan ya?

Yoi. Poppie “daku” sama Ahong “kuda”. Tapi Poppie sama Ahong gak lama. Reid Voltus gonta-ganti bassist sama drummer sering banget.

2005 latihan langsung jamming atau lo dan Idham bawa lagu dari rumah atau gimana, Den?

Jamming, benar-benar awalnya kaya jam band. Terus Idham sama gue mulai nulis lagu barengan.

Reid Voltus diskografinya apa aja ya, Den?

Satu EP, dua kompilasi rekaman-rekaman yang gak pernah rilis. Lagunya mah itu-itu aja.

Hahay. Dari Reid Voltus lo lanjut ke Sex Sux?

Yoi. Reid Voltus sama Sex Sux sempet jalan diwaktu yang sama, sampai gue keluar dari Reid Voltus 2011.

Lo bikin Sex Sux berdua Melly tahun berapa?

2010.

Sempat bikin satu album ya?

Yoi. Satu album, satu EP, satu split EP. Buat band yang umurnya pendek, lumayan produktif itu.

Split EP sama siapa, Den?

Sama Andy B, artist indiepop dari Inggris (?).

Oh iya, ini gue browsing

Split itu rekaman terakhirnya Sex Sux sebelum vakum, dan akhirnya bubar.

Setelah itu lo solo karir pakai moniker Water Sport?

Iya. Awalnya Water Sport kayak Sex Sux lanjutan, cuma gue kurang puas gimana gitu. Cuma pengulangan ide, jadi bosen. Jadi musiknya sedikit-sedikit berubah, sampai monikernya gue drop sekalian.

Water Sport sempat dua album ya, Den?

Iya, dua album, dua-duanya cuma ada di format kaset.: EH, TIGAAAAA. Astaga, gue lupa satu lagi, padahal dibanding dua album Water Sport yang ada kasetnya, yang album terakhir itu yang gue paling puas sama hasilnya. Cuma waktu itu gue males promosiin, jadi cuma masukin Bandcamp dan gue lupain. Bahkan masuk Spotify pun setahun setelah rilis.

Itu setelah Album Pop?

Setelah Album Pop.

Apa judulnya, Den?

“Ibu Bolehkah Aku Mendengarkan Water Sport?”

Oh iya. Semenjak lo rekaman di kamar era Sex Sux, lo jadi jauh lebih produktif nulis lagu dan rilis ya, dibanding sebelumnya?

Jauh. Dulu gw males rekaman di studio, annoying buat gw: udah harus ke luar rumah, bayar orang, dan hasilnya gak sesuai sama yang ada di kepala. Di rumah, biarin mungkin kata sound engineer profesional jelek, paling nggak gw demen. Sampai sekarang gw ga ngerti basic buat mixing-mastering hahaha. Biar aja deh, males juga mendalaminya.

Sejak tahun berapa lo mulai belajar ngerekam sendiri?

Jaman Sex Sux, berarti 2010-an. Gw sama Melly sudah setuju buat bikin Sex Sux se-simple mungkin. Nggak perlu tambah drummer+bassist. Loop drum dari iPod kalau live, rekaman pakai Macbook Melly. Kita ga mau repot. Gw baru nemuin sisi menyenangkan dari rekaman pas itu. Kalau ada ide, langsung rekam, tambahin dikit-dikit, ga ada waktu yang terbatas, ga ada input dari orang lain. Naif juga, kayak anak kecil baru nemuin kalau gambar warna langit ga usah warna biru dan warna matahari ga harus kuning.

Bikin Sex Sux se-simple mungkin karena dipengaruhi juga oleh the Vaselines?

Mungkin lebih ke Beat Happening, ya. Mereka rekaman EP pertama konon make boombox di Jepang. Rekaman gimana nanti deh, yang penting lagunya enak dulu. Rekaman sebagus apa juga kalo ga suka sama lagunya buang-buang uang dan waktu.

Balik lagi ke Water Sport, kenapa lo memilih udahan pakai nama rekaman itu dan kemudian rilis album dengan nama asli?

Sudah beda mood dari musiknya, Water Sport itu gw ngasal banget ngasih nama.

Btw, lo masih begadangan nih, Den?

Yoi, santai.

Sekarang di Bogor jam 1/2 2 ya?

Memang belom jam tidur gw, biasanya masih main game atau nonton jam segini.

Lo terakhir ngarang lagu kapan, Den?

Terakhir? Tadi siang.

Wuih… Pemicunya apa tuh?

Gw lagi denger lagunya The Associates, “Club Country”. Ada intronya suara hi-hat gitu, gw pikir boleh nih di-sample. Gw sample, terus cari-cari lirik yang kira-kira bisa masuk. Gw akhir-akhir ini sering nulis lirik/prosa kepisah dari musik. Tulis yang banyak, nanti kalau ada yang cocok sama ide musik, gw masukin pake edit-edit dikit biar masuk ke lagunya. Jadi, ide liriknya mungkin udah lama banget.

Lagu tadi siang sudah jadi, Den?

Tinggal rekam. Biasanya tapi kalo udah rekam, idenya suka berubah lagi, cuma dasarnya masih sama. Gw ikutin aja insting primordial kalo rekaman wkwkwkwk.

Hahay. Kalau rilisan lo pakai nama Deni Taufik Adi yang pertama itu mini album Lemah, Letih, Lesu, dan Segala Diantaranya, ya?

Iya. Musiknya kalau elu bandingin sama Water Sport udah beda.

Water Sport terakhir tapi bisa dibilang mendekati… Ada kesan semakin mendekati arah musik lo kemudian…

Nah, iya.  Gw beneran nemuin ‘sound’ yang gw cari di album Lemah, Letih, Lesu, dan Segala Diantaranya. Water Sport, gw masih coba segala macam dan lihat ada yang nyangkut apa nggak.

Apa bayangan yang ada di kepala lo ketika garap album itu?

Sebenernya album itu berangkat dari satu lagu, judulnya “Ria”, itu ada di album Water Sport yang “Ibu….”.  Gw rasa akhirnya gw nemuin yang gw pengenin. dan nulis lagu+liriknya cepet banget, begitu lirik jadi semua struktur dll udah muncul di otak. Jadi selanjutnya adalah= lagu pendek+gitar akustik+drum machine+lirik yang lebih terbuka sama apa yang gw rasain. Sama gw juga terinspirasi dari waktu ngerjain split EP lo sama Joni Mustaf (Sorry, Poor Connection, Ruru Records, 2019).

Haha, gw inget elu dateng ke rumah genjreng-genjreng bikin lirik apa pun yang ada di kepala lo, jadi, terus langsung rekam. Dulu gw sering self-edit lirik terlalu banyak, kayak ada rasa takut kalo terlalu terbuka soal perasaan gw.

Tapi sebenarnya gue juga suka ada tendensi ke situ sih: takut terlalu terbuka. Emosi era itu barangkali yang bikin gue makin cuek. Kalau elo gimana, Den, tentang menulis lirik?

Kalu sekarang sih gw tuangin aja semua, kalo ada ide apa pun itu, gw langsung ketik. Kadang make sense, kadang gak ada artinya, kadang mungkin ada artinya cuma gw harus baca lebih mendalam ke lirik gw sendiri. Sekarang di PC gw ada folder isinya lirik-lirik doang, bisa kepake atau nggak. Kalaupun gw edit, phrasing doing, biar masuk sama musiknya. Gw udah sangat cuek sekarang.

Tapi dari mixing-an lo apakah ada “pertolongan” dengan agak menyamarkan vokal? Atau itu sama sekali tidak ada maksud untuk lebih menyamarkan lirik?

Menyamarkan vokal itu lebih kearah gw gak suka suara gw sendiri. Gw suka lirik sama musiknya, cuma gw sangat gak suka suara gw sendiri hahahaha.

Bisa begitu… Ahahaha

Aneh, ya. Kadang gw kalau dengar lagu gw sendiri, gw ngeyakinin diri gw itu orang lain yang nyanyi, biar gw bisa menikmati. 

Lemah, Letih Lesu… dirilis oleh Tarsius Records, itu gimana ceritanya?

Jadi itu EP udah jadi siap rilis, terus Peter dari Anoa Records bilang, dia mau bikin sub label namanya Tarsius, dan tertarik buat ngerilisin. Akhirnya done deal, gw tambahin dua lagu: “Ria” lagu dari jaman Water Sport sama “Segala Diantaranya” yang akhirnya gw rekam. Tadinya sebelum ada offer Tarsius gw pengen rilis sendiri aja kayak biasa.

Menurut lo EP Lemah, Letih, Lesu… secara musik dan lirik banyak dipengaruhi oleh apa saja atau siapa saja? Rilis 2020 kan ya?

Vic Chesnutt, David Berman, sama Mark Linkous. Kayak pembukaan lirik lagu pertamanya: “semua pahlawanku sudah mati, Berman-Chesnutt-Linkous”. Iya,

itu timing rilisnya sama pandemi deketan deh kalo ga salah.

Tapi lagu-lagunya sudah lo tulis dan rekam sebelum pandemi?

Iya, udah dari 2019 gw rekamnya.

Gue suka dengan format rilisan lo yang durasinya gak panjang. Cukup 6 lagu. Kenapa lo bikinnya seperti itu?

Karena disaat itu yang pengen gw sampein cuma 6 lagu itu, dan yang mau gw sampein cuma 2-3 menitan. Gw lebih suka rilisan yang kohesif antar lagu tapi jumlah track-nya sedikit daripada 10-12 lagu yang kayaknya ga nyambung secara mood. Gw ga akan maksain, kalo dapetnya 7, ya jadilah 7. Suatu hari mungkin gw dapet 30 lagu yang kohesif biar bisa bikin double album haha

Nah, lanjut ke EP berikutnya… s/t… Apa pemicunya lo mulai rekaman untuk rilisan itu?

Nah, itu karena cita-cita gw dari jaman dulu pengen bikin EP country. Dan gw kebeneran lagi banyak ide. Itu satu-satunya album yang gw ga ngerjain 100% mulai dari artwork sampe mixing. Mixing-nya sama Idham “Swellow”, artwork-nya dikerjain sama Gilang “Arc Yellow”. Gw suka banget sama artwork-nya.

Masih ingat obrolan-obrolan bersama Idham dan Gilang tentang mixing dan artwork EP ini?

Gw inget Idham bilang susah di-mix, soalnya ada satu lagu gitar sama vokalnya satu track hahahaha. Kalau Gilang, gw cuma bilang “pengen ada hewan ternak”.

Apa yang membuat lo merasa pingin nih suatu saat bikin EP/album country?

Mungkin karena ada beberapa orang yang gw kenal bilang country norak, ya? Gw pengen ngasih tau mereka salah loh. Padahal mereka belom pernah denger Johnny Cash, John Prine, Townes Van Zandt dll yang menurut gw keren banget. Ada sih yang norak, banyak malah…. tapi bukannya tiap genre kayak gitu, ya? Ga semuanya jelek, ga semuanya bagus.

Ok, lanjut ke tahun ini lo rilis album Kekerasan… Nah, kali ini apa yang membuat lo mulai nulis lagu dan rekam?

80% lagunya sebenarnya udah gw tulis dari 2021 akhir, cuma gw kayak ga ada mood buat ngerekam, jadi gw kayak cuma bikin drum pattern di drum machine, nyatet lirik sama chord, udah, gw simpen di PC lama banget. Tapi tiap gw iseng maen gitar, gw maenin lagu-lagu itu terus hahaha. Akhirnya awal 2023 gw mutusin buat ngerekam. Ga lama proses rekamannya, cuma gw ga ada mood aja.

Ada lagu yang paling lo suka di album Kekerasan..? Mungkin lagu yang paling sering lo mainkan pakai gitar di kamar…

“Boxcutter dan Obat Tidur”, sama “Agustusan”.

Apa yang bikin lo suka?

“Boxcutter…” karena gw suka banget sama lagu itu hahaha, anak kesayangannya gw. “Agustusan” enak buat main di gitar, tapi gw agak ga pede sama rekaman “Agustusan”

Kenapa gak PD?

Soalnya baru kali itu gw nulis lagu naratif, ada ceritanya kan itu. Lagu soal karakter yang gw buat; sesekali gw pengen coba bikin lagu soal orang lain yang bener-bener ga ada urusannya sama gw.

Ya ya… Gue sudah mendengarkan album Kekerasan… berkali-kali, sekarang gue lagi paling suka “Tertelan”.

Wah, itu personal banget tuh. Kenapa elu suka, kalo boleh tau?

Notasinya.

Itu rekamannya paling hectic. Pas rekaman, pas drum machine gw rusak. jadi drum di lagu itu make keyboard Yamaha, gw maenin manual.

Lagu-lagu lo notasinya lahir dari menyanyi sambil main gitar, ya? Bukan dicari atau dapat dari piano, misalnya?

Iya, kebanyakan notasinya dari main gitar. Satu album itu melodi+chord dapet dari maen ukulele tapinya, gw naro ukulele disamping komputer gw.

Setelah album Kekerasan… rilis, lo sudah ada rencana apa lagi, Den?

Mulai nyari arah lagi nih, udah ada sedikit ide kalo bikin rilisan lagi kayak gimana. Gw pengen mulai ngurangin porsi gitar, udah ada dua lagu sekarang.

Wuiihh…

Tapi satu-satu deh, harus benerin drum machine dulu sebelum rekaman lagi hahaha.

Den, kalau lo cuma boleh sebut lima musisi/band yang menurut lo paling memengaruhi musik lo, paling membentuk insting atau cara lo bikin lagu, siapa aja tuh?

The Fall/ Mark E. Smith, Calvin Johnson, David Berman, Nick Cave, Daniel Johnston. Pengen tambahin The Clash sama Ween yak kalo boleh lebih. Eh, cuma boleh lima, ya udah lima itu.

Hahay… Siap! Tiga buku terfavorit?

Slaughterhouse-Five, No Longer Human, Oyasumi Punpun.

Ada rencana nambah alat gak, Den, buat rekaman?

Gw udah lama pengen berenti rekaman pake PC atau laptop, pengen beli Tascam yang 4 track, cuma belum kesampean.

Lo merasa masih mungkin gak rekaman sewa studio gitu?

Saat ini sih ga ada keinginan, cuma ga tau deh ke depannya, siapa tau berubah pikiran.

Juga lagi gak ada keinginan untuk bikin band baru?

Nggak kalo itu sih, masalah kesehatan juga. Kasian kalau band-nya susah manggung gara-gara gw.

Kalau proyek rekaman bareng musisi-musisi lain?

Oh, itu pernah ngisi vokal di beberapa lagunya Peter Adrian.

Oh iya… Lo bikin liriknya juga ya?

Iya. Liriknya gw juga.

Lo pernah kepikiran pingin bikin buku juga gak, Den?

Kepikiran sih iya, pernah coba mau bikin kumpulan cerpen… jadi satu cerpen tapi hasilnya jelek dan gw geli sendiri bacanya, jadinya gw hapus.

Hahay… Kalau buku puisi?

Nah, itu ga pernah kepikiran sama gw, mungkin?

Film yang paling lo suka apa, Den?

Boleh berapa, nih?

Lima deh…

Bentar yak, mikir dulu, banyak soalnya.

Siaaap.

Millenium Actress, Blade Runner, Apocalypse Now, Lady Snowblood, Magnolia.

Lima itu kalo gw disuruh nonton terus-terusan, ga apa deh.

Cemilannya apa tuh buat sambil nonton?

Rokok hahaha, gw ga terlalu suka nyemil.

Buat rekaman juga rokok aja, ya? Gak siapin cemilan gitu…

Nggak sama sekali, rokok doang. Tapi gw lagi usaha ngurangin rokok nih, moga-moga aja bisa berenti.

Terakhir, sampul album yang menurut lo ok banget, apaan?

Los Angeles – X.

 

More Stories
Vintage Glasses
Vintage Glasses merilis “Invasi Batas Utara”