Budi Warsito

Ini Budi. Ini Buku Budi. Buku Budi Judulnya Trocoh.

Selama menelusuri sesuatu itu kan kita bisa nyasar dan nggak dapet apa-apa, atau malah ketemu harta karun. Atau ngerasa dapet sesuatu, padahal semu.

Terpantau dari Instagram bahwa pustakawan Budi Warsito, yang biasa bermarkas di Kineruku, Bandung, meluncurkan debut bukunya bertajuk Trocoh.  Empat puluh satu esai yang terkumpul di sana merupakan tulisan-tulisan Budi yang tersebar di blog dan akun media sosialnya. Dari sana pula kita bisa mengenali kiprahnya dalam tulis menulis yang bagaikan gabungan kolase setumpuk album foto personal, laporan arkeolog budaya pop, dan sandi-sandi di dalam laci sedan detektif.

Pada kisah-kisah itu terdapat banyak film, acara televisi, buku, siaran radio, dan rasa-rasanya selalu ada musik. Membahas hubungan paman dan keponakan dalam cerita anak-anak, memburu waktu awal terminologi piring terbang, sampai gerak-gerik senam-senam lokal. Membentangkan Syd Barrett hingga Ria Jenaka. Rangkai nostalgia dan penyelidikan yang ke sana-ke mari begitu menempel serasi bagai hem dan dasi, hp dan kartu, bunga dan kumbangnya.

Saya mengincar buku itu! Tapi, posisi hidup sedang jauh dari tanah air, di Leiden, Belanda, kota kecil yang cukup banyak buku. Namun, mana ada Trocoh di sana? Mengigau pun di tepi kanal sambil ngemil patat atau kapsalon, tetap lebih strategis menunggu pulang ke Indonesia untuk menyergapnya.

Tetapi, suatu hari, seorang teman di Jakarta mengirim pesan bahwa ia akan datang untuk beberapa hari di Leiden. Dia bertanya, “Mau nitip dibawakan apa?” Saya tentu tidak ingin gebyar benda hingga merepotkannya. Cermat memilih, saya meminta tolong dia untuk membawakan beberapa copy CD album terbaru saya, Penembak Bayaran (stok “pegangan” di sini sudah habis) dan satu Trocoh.

Ketika teman saya tiba di Leiden, buku sampai di tangan, baca halaman demi halaman hingga akhirnya tuntas (dengan lokasi di atas kasur maupun kafetaria museum berkaca lebar), sesuai perdiksi, Trocoh adalah salah satu buku terfavorit saya! Kontak, ah, Budi Warsito, ajak ngobrol-ngobrol via WA. Si pengarang buku bersedia. Berikut petikannya. Selamat membaca.

 

Sejak kapan lo tau Trocoh akan jadi judul buku? Apakah ada judul-judul lain yang sempat dipertimbangkan?

Sekitar beberapa bulan sebelum terbit. Judul yang pernah kepikiran dan kemudian jadi geli sendiri: Yang Terbang dan Tak Kembali [emoticon tertawa dengan dua air mata besar].

Gawat juga judul itu…

Tulisan-tulisannya kan menatap ke belakang semua, mengingat-ingat sesuatu, lalu melengkapinya, dsb. Mungkin jadi terbaca seperti nostalgila, tapi sebetulnya gua mendompleng itu untuk tujuan lebih besar. Melengkapi = karena ada pertanyaan-pertanyaan dari masa kecil yang emang baru bisa kejawab bertahun-tahun setelahnya, begitu ada internet.

Menurut lo kenapa romantisme itu menggebu-gebu?

Nostalgile sering bikin kita ketawa-tawa, padahal belum tentu seru juga buat orang lain. Tapi sebagai pelipur lara, tertawa emang masih paling efektif. Gua sempet kepikiran menggabungkan melodrama dengan parodi tapi belum cukup bisa mengolah formulanya. Epilog di Trocoh tadinya mau cerita tentang sebuah plat gramofon tua (shellac 78rpm) yang liriknya dikutip di awal naskah. Umurnya udah 100 tahun lebih. Itu jelas bukan nostalgia karena gua sendiri bahkan nggak pernah mengalami langsung era itu. Tapi suara-suara dari masa itu emang ajaib, hauntingly beautiful. Rilisan-rilisan tua era Dutch East Indies adalah hal yang paling gua sukai dari seantero musik. Lagunya pendek-pendek tapi bicara banyak. Tapi naskahnya malah jadi belok ngomongin kaset dari masa kanak-kanak sampai beranjak remaja. [emoticon tertawa canggung] Plat-plat gramofon ntar aja deh, di buku berikutnya.

Hahay… Tapi sebetulnya sejak kapan lo pingin jadi penulis buku?

Dari kecil! Baru kesampaian di umur 40. [emoticon tertawa dengan dua air mata besar dan kepala miring]

Penulis buku seperti apa yang lo bayangkan sewaktu kecil?

Penulis cerita-cerita sci-fi dalam bahasa Jawa.

Sempat menuliskannya sedikit di buku tulis, misalnya?

Waktu SMP pernah bikin zine komik sama temen sekelas. Tentu waktu itu belum tau kalau itu namanya zine. Dulu kami nyebutnya…buletin. Kemarin sempet bahas dikit soal ini di IG Live Post Santa. Film-film di bioskop gua gambar ulang, tapi jalan ceritanya gua ubah-ubah sesuai yang gua mau. Terminator 2 misalnya, itu tahun 1991 tapi baru nyampe bioskop deket rumah sekitar ’92-‘93. Ceritanya gua ganti, si mesin waktu ini tiba-tiba ngadat dan doi nyasar ke sini, deket-deket menjelang kemerdekaan. Banyak terpengaruh dari kartun The Centurions di TVRI dan komik kethoprak mbambung di majalah MOP dari Semarang, terutama edisi-edisi ‘80-an. Cuma panelnya lebih dikit, teksnya lebih banyak.

Lo masih nerusin gambar?

Udah nggak. Waktu SMA lebih milih nulis.

Kenapa gak memilih seriusin gambar sambil bercerita seperti pas SMP?

Susah sih ya bikin gambar, rasanya lebih mungkin nulis. Pas SMA itu lagi getol-getolnya ngisi buku harian.

Seperti apa buku harian lo saat itu?

Menang kuis sepakbola di radio waktu SMP hadiahnya buku diary, jadi ya pakai itu. Sampulnya pink bunga-bunga. Ada gembok kecil, kertasnya wangi, “Dear diary…” Hahaha… Kzl sih nulis di situ, tapi sayang juga kalau nggak dipakai. Isinya kacau, teks dan sketsanya kebanyakan marah. Biasa lah ya, masa puber. Begitu SMA di Solo, pindah ke buku tulis. Temen sebangku waktu itu orangnya baik dan rajin, tapi pendiem. Gua cerewet, punya banyak anekdot. Sebagai pembaca setia rubrik “HaHaHAI”, stok cerita lucu berlimpah dong… Beberapa jokes dari situ gua ceritain ke dia, dengan berbagai versi dan variasi. Tapi karena dia pendiem, ketawanya juga cuma seadanya!

Ahahahaha…

Pernah suatu hari di jam istirahat, dia lagi di luar, gua tetep di kelas. Dari laci meja dia ada buku jatuh ke lantai. Itu buku tulis dia, kebuka di halaman terakhir. Ternyataaa, jokes gua selama ini dia catet di situ! [dua emoticon: menangis dan tertawa sampai menangis]. Terharu lah ya, trus kepikiran, ooo mungkin hal-hal jadi lebih berarti ketika dituliskan kembali ya? Btw, kalau nggak ada temen sebangku ini, kayaknya gua nggak bakalan masuk IPA deh.

Kenapa?

Sebetulnya lebih pengen IPS, tapi kakak-kakak kuliah teknik semua. Gua disuruh IPA juga, wajarlah ya… Untuk masuk kelas 3 IPA/IPS musti lewat tes penjurusan gitu kan, di akhir kelas 2 SMA. Otak mungil ini sempet panik juga. Untunglah si temen sebangku tadi, kalau di daftar absensi, namanya tepat setelah nama gua. Jadi pas ujian penyaringan, posisi duduk kami deketan. Ya udah, gua contek aja semua jawaban dia! [emoticon ibu jari dan tertawa mengeluarkan air mata] Masuk deh kelas 3 IPA! *nowplaying­-nya harus P-Project nih, “Mencontek… mencontek, teman…” Mau parodi atau asli, bagus banget lagu itu.

Hehehe… Dulu ada tes penyaringan pas kelas 2 ya? Gue dulu penjurusan pas kelas 2 dan bukan dari ujian penyaringan kayaknya. Tapi dilihat dari nilai-nilai pelajaran di raport.

Di jaman lu masih A1-A2-A3-A4 ya? Mulai tahun 1997 sistemnya diubah, jadi IPA-IPS-Bahasa dan penjurusannya cuma di kelas 3 doang. Gua lulus SMA tahun ’98.

Ya ya… Nah, dari menulis buku diari sewaktu SMA itu, seingat lo tulisan-tulisan lo di situ lo suka gak seandainya lo baca sekarang? Ada yang lo ingat kayaknya mantep juga tulisan yang itu…

Hmm, kayaknya nggak. Tapi ada yang bikin gua pinisirin, justru karena udah lupa detilnya. Pas kelas 2 SMA pernah punya diary bareng pacar, ampun deh masa remaja… Gantian gitu ngisinya, di buku yang sama, 3 hari di dia, 3 hari di gua.. Tiga hari kayak selamanya! Terakhir sih dia yang bawa, mungkin udah dibuang juga. Nulis apa ya waktu itu.. Pasti banyak bokis-bokisnya lah ya. Dia tinggal di rumah ortunya, gua ngekos deket sekolah. Paling cerita soal kos-kosan, atau kaset-kaset yang didengerin waktu itu. Nah, ini! Lagu-lagu di radio, atau di MTV kalau dia, karena ada antena parabola di rumahnya. Majalah yang lagi dibaca, menu warteg hari ini, dsb. Bahas-bahas ulangan Kimia di sekolah (kami satu angkatan tapi beda kelas), dst. Ada film Con Air nih di bioskop, nonton yuk. Bukan romantikanya yang gua mau revisit, ya’elah cinta monyet gitu loh, tapi lebih ke bagian yang bahas-bahas kaset, kayak gimana ya dulu itu gua nulisnya?

Kalau menulis di blog, itu sejak kapan?

Itu lagi luntang-lantung di warnet, sekitar 2004 setelah drop-out dari kampus lama. Ada temen baik gua waktu itu (dia sih lulus, bahkan sampai S3 wkwkwk), coba-coba bikin blog di blogspot, trus dia kirim link-nya ke gua via SMS. Gua reply, “Wah, gua juga lagi bikin nih! Tunggu ya.” Blog-blog pertama gua itu udah lama isded, blog dia satu doang malah masih aktif sampai sekarang! Pas bikin Trocoh, gua banyak kroscek ingatan jadul gua ke dia, terutama dari fase yang ada dianya. Masa-masa kuliah di Bandung nggak terlalu menarique, kecuali klub film di kampus lama, yang dijadiin naskah pertama di awal buku. Di kampus yang baru, gua lulus tapi nggak sempat ngapa-ngapain karena waktu itu udah harus disambi kerja.

Lo abis-abisan demen film gara-gara apa bung?

Waktu kecil suka keluyuran di bioskop tua deket rumah, mungkin dari situ. Dan ya, seneng nonton TV juga kan. Twin Peaks di TVRI! [emoticon kedua tangan menutup wajah]

Film-film apa saja yang dulu paling bikin lo demen film?

Film Jet Li, Once Upon a Time in China yang keberapa tuh ya, yang ada adegan kamera film jatuh ke tanah, tapi tetep merekam kejadian penting di ceritanya?

Wah, gue gak hapal film Jet Li..

Gua lebih suka film-film Jet Li daripada Jackie Chan atau Andy Lau. Tapi pas serial The Return of the Condor Heroes tayang di Indosiar sekitar 1995, gua tonton juga sih… Sampai punya kaosnya! Gambarnya Yoko, si Pendekar Rajawali.. Waktu SMA ada film Nicole Kidman, To Die For, nontonnya udah di bioskop 21 di Solo. Ngaruh banget film itu buat gua, ternyata film bisa diginiin juga ya.. Bisa dark tanpa harus jadi kayak Robocop.

Kalau Twin Peaks… kenapa lo demen?

Atmosfer kota kecilnya terasa familiar. Hari-hari berjalan lambat, seperti nggak terjadi apa-apa, malah bikin kita makin curiga pasti ada apa-apa. Seumur hidup coding/decoding karena hal-hal nggak pernah terlalu jelas, serba menebak-nebak. Film To Die For ceritanya juga di kota kecil. Kalau itu lebih ke drama busuk tentang obsesi. Nicole Kidman jadi pembaca berita cuaca di stasiun TV lokal. Dulu gua sering nungguin prakiraan cuaca di TVRI loh, lagunya enak. Lu inget nggak?

Nggak inget. Dan nggak pernah nungguin juga. Lo nungguin karena lagunya? Suka prakiraan cuacanya juga?

Sempet gonta-ganti sih, lagu pengiringnya. Ada yang judulnya “Dewi Nova”. [Budi membagi tautan YouTube “Dewi Nova” soundtrack Prakiraan Cuaca Berita TVRI] Lagunya oddly satisfying. Versi-versi sebelumnya malah pernah cuma denting-denting syahdu gitu, rileks bikin ngantuk. ASMR kali ya kalau bahasa sekarang? Intonasi presenter pas bacain “cue to” prakiraan cuaca ini juga gimanaaa gitu.. Mungkin karena gua suka banget radio. Slot itu kan sebetulnya mirip siaran radio, cuma di televisi! [emoticon tertawa]

Iya, betul sih, kalau diingat-ingat siaran berita harga kol gepeng dan cabai keriting di radio…

Yoiii. Dulu di Solo ada slot kecil di radio lokal, khusus bacain berita dari pusat yang diterjemahin ke bahasa Jawa. Pendek doang, paling cuma 5-10 menit. Bahkan buat orang Jawa sekalipun, pilihan katanya kadang mencengangkan. “Menteri Nem-neman lan Olahkanuragan mbikak turnamen wulu tamplek..” (“Menteri Pemuda dan Olahraga membuka turnamen bulutangkis..”) Gua selalu suka pengalaman-pengalaman auditori semacam itu.

Ya ya… Kalau sandiwara radio, lo suka gak? Acara-acara radio favorit lo apa aja, bung?

Sandiwara radio Saur Sepuh sih suka, di radio AM waktu itu. Ada siaran ulangnya beberapa kali dalam sehari. Rutin nyimak terutama justru buat dengerin iklan-iklannya. Tablet obat batuk, salep obat panu, dsb. Waktu Saur Sepuh keluar versi filmnya, pasti semangat dong ke bioskop. Kaget juga, keseruan auditorinya hilang semua di layar lebar. Sampai sengajain merem di bioskop, supaya bisa fokus dengerin vokal Brama dan Mantili. Tetep beda mood-nya. Dan nggak ada iklannya!

Iklan obat batuknya seperti apa, bung? Bukan Dede Yusuf membintangi Bodrex?

Satu yang paling inget, obat batuk namanya Bombat! [emoticon tertawa sampai menangis] Ceritanya ada orang lagi baris-berbaris, trus mereka disuruh berhitung. Si Ateng malah batuk, “Satu..! Dua..! Ti-…uhuk-uhuk!” Itu gua SD, mungkin sekitar akhir ‘80-an. Pas SMP, acara favorit… ya paling kuis bola tadi. Itu di radio FM, Piala Dunia ’94. Kalau SMA, ada program HaiRock tiap Senin malem, kerjasama majalah HAI dengan radio-radio FM se-Indonesia. Kocak juga “Bulls on Parade” diputer di program yang sama bareng lagu Eels. Trus ada satu program Minggu sore, lupa nama acaranya, di radio FM juga, isinya rekaman audio pertunjukan live dari band-band Inggris waktu itu, sekitar ’96-’97. Misalnya, Blur (pertama kali dengar lagu “Popscene” di situ, karena track itu nggak ada di kaset-kaset albumnya), Suede (waktu itu album Coming Up baru rilis, tapi di live itu banyak bawain album-album sebelumnya), Kula Shaker (ini keren BANGET live-nya!), dsb. Sempet gua rekam juga ke kaset kosong. Beberapa tahun sebelumnya, gua lupa itu radio AM/FM atau malah radio amatir, aneh banget deh, ini penyiarnya salah muter kaset atau gimana ya.. Vokal perempuannya unik, trus ada suara flute dan koor ibu-ibu gitu, entah bahasa apa. Waktu itu nggak sempet direkam. Belakangan baru ngeh itu Le Mystère des Voix Bulgares. Beberapa tahun lalu malah nemu kasetnya di Blok M Square, versi reissue 4AD.

Lo pernah terpikir kerja di radio gak? Ngebayangin jadi penyiar, gitu…

Waduh. Jadi penyiar sih nggak. Suara kayak gini :)) Pas gua kuliah, Hard Rock FM buka cabang di Bandung, ada temen kuliah yang daftar ke situ dan keterima jadi penyiar. Kami beberapa temennya rame-rame nganterin dia ke siaran perdananya. Temen kami ini kemudian dapet link ke satu majalah film waktu itu, slot satu kolom esai di situ. Dia bagi ke temen-temen yang mau nulis. Tema-tema pesanan sih, misalnya edisi superhero, gua nulis soal Superman. Ternyata kepanjangan.. jadi waktu dimuat ada paragraf yang mereka buang, trus dituker-tuker urutannya. Hahaha, kacau!

Sejak itu lo gak nulis lagi di majalah?

Pernah diajakin teman-teman blogger Bandung-Jakarta, duh apa ya nama majalahnya, lupa.. Sempat nulis juga buat Visual Arts. Trus sama Dimas Ario diajak nulis di Jeune. Ada beberapa lagi, kebanyakan majalah kurang terkenal, dan gua pakai nama samaran. Terakhir yang paling serius ya waktu bikin majalah Bung! itu, bareng Ardi Yunanto dkk., tahun 2011. [Bung! adalah majalah 4 edisi yang diterbitkan oleh ruangrupa, Jakarta]

Nah, kalau majalah, waktu kecil lo suka banget Bobo gak? Atau sukaan baca Donal Bebek?

Di rumah sih langganan Bobo. Si agen majalahnya temen kakak gua. Majalahnya kadang nggak dianter ke rumah tapi dititipin ke kakak di sekolah. Perasaan dulu waktu SD gua rajin ngisi dan ngirim TTS Bobo, tapi nggak dapet-dapet tuh sepeda BMX! Artikel mengenai The Voyager Golden Record pertama kali gua baca di Bobo, sekitar pertengahan dekade ‘80-an, yang nulis Karlina Leksono. Bengong bacanya. Bertahun-tahun kemudian baru bisa dengerin track lengkapnya di internet, dari akun soundcloud NASA. Rani [istri Budi] malah punya plat musik gamelannya! Oya, tahun berapa tuh ya, majalah Kawanku sempat jadi Kawanku Stil (Saya Tidak Ingusan Lagi)? Pokoknya awal ‘90-an. Harganya Rp1.000, sementara Donal Bebek udah Rp1.200. Di toko buku deket pasar, gua belinya selalu Donal Bebek. Si ibu pemilik tokonya heran, mungkin dia kasihan lihat anak kecil sibuk ngeluarin uang kertas lecek dan koin-koin logam dari saku celana, “Kenapa kamu nggak beli Kawanku aja sih? Lebih murah, isinya lebih banyak…” Waduh. Kalau jaman itu udah ada WhatsApp, gua kirimin juga tuh sticker WA, ‘Lah Kok Ngatur’. Mukanya tampak lega ketika suatu hari gua akhirnya pindah haluan, beli majalah Kawanku. Edisi itu bonusnya poster Home Alone. Masih gua simpen tuh posternya. Suka banget film Home Alone!

Gue suka juga Home Alone.

Tosss duluuu!

Tossss!!! Apa karena lo juga suka jebakan-jebakan itu? Kayak suka prakaryanya?

Yoiii. Dulu pernah ada cerita pendek di Bobo, tentang perangkap binatang liar di hutan. Kalau keinjek di tanah bisa mencelat gitu talinya, menjerat si hewan buas ini. Lamaaa banget gua mikirnya, gimana ya cara bikinnya.. Sempet nanya-nanya juga ke bokap. Nggak sampai nyoba bikin juga sih, terlalu susah. Pas nonton film Home Alone, gilak-gilak itu isinya perangkap semua! Ke manusia pulak! [emoticon kepala tertawa miring berair mata]

Trocoh - Budi Warsito

Di Trocoh, lo nulis tentang 6 buku favorit lo di masa kecil, yang buat gue itu jadi masuk akal banget memberi pengaruh pada Trocoh, tapi kalau ada 3-5 judul buku lagi yang disebutkan, kurang lebih apa saja tambahannya bung?

Sebetulnya ada satu buku yang UGHHH banget pas gua SD, tapi gua lupa judul persisnya. Mau search di internet juga nggak tau musti pakai keywords apa. Dulu bacanya di perpus SD, seperti buku tentang cahaya yang gua sebutin di pengantar naskah soal 6 buku favorit, tapi ini buku fiksi. Ceritanya tentang anak kecil di hutan. Ini setting-nya lokal ya, bukan model Jungle Book gitu, beneran kayak kita aja orang biasa. Si anak ini punya keluarga. Tapi kemudian bapaknya si anak kecil itu hilang nggak tau ke mana. Entah hilang, menghilang, atau dihilangkan. Huhu. Si anak berusaha mencari bapaknya ke mana-mana, melacak semua jejak yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Sedih banget itu ceritanya.

Setebal apa bukunya?

Novelet, tipis. Kalau nggak salah nama si anak itu Jarot. Trus ada seri ensiklopedia, judulnya Mesin. Gua kelas 6, baca di perpus daerah di kabupaten. Kalau ini tebel, terjemahan. Gara-gara buku ini jadi pengen bikin mainan helikopter sendiri, sok-sokan DIY gitu. Pakai dinamo bongkaran tamiya, baling-balingnya dikanibal dari mainan di toko belakang pasar yang juga sedia alat-alat pesta, seperti balon, pita, sedotan. Baling-baling ditempel ke dinamo pakai lem Castol, diiket-iket pakai tali kasur. Semua bahan udah gua bikin seenteng mungkin, tetep aja nggak kuat ngangkat. Boro-boro terbang, muter-muter doang di tanah. Zzz… Oh, sama satu lagi, buku sulap! Sempat obsessed juga pengen jadi pesulap. Gara-gara si Mandrake tuh, dari kartun TVRI, Defenders of the Earth. Belinya di lapak buku lesehan depan bioskop. Triknya culun semuaaa. Penonton setia show gua: anak tetangga depan rumah. Mungkin karena umurnya jauh di bawah gua, seneng-seneng aja dia lihat sulap.

Judul buku sulapnya apa bung?

Duh, apa ya bung.. lupa. Sampulnya kuning, gambar tukang sulap pegang tongkat. Dari mutu gambar harusnya udah langsung ketauan buku ini kurang meyakinkan. Tapi namanya obsesi, kita jadi nggak jernih melihat hal-hal. Mungkin judulnya Belajar Sulap.

Bukunya gak terlalu tebal juga?

Tipiiis. Tipikal buku-buku antah-berantah dari penerbit lokal dekade ‘80-an.

Kalau musik bung… lo pernah kepikiran jadi rocker gak?

Waktu album pertama Slank keluar, gua jadi sering nyanyiin “Maafkanlah” di pinggir sumur. Nyokap sih mengapresiasi. Mungkin dia lega anaknya akhirnya suka lagu lain selain “Arti Kehidupan”-nya Doel Sumbang. Suatu hari gua keluyuran di pasar, lewat depan toko mainan tempat beli baling-baling tadi itu. Lho, kok ada kacamata plastik double frame?! Lensa bening lensa gelap, dari plastik juga sih, tapi tetep aja..mirip Kaka Slank di TV! Langsung heboh dong, pengen punya. Sempet ada lah ya, cita-cita jadi penyanyi. Tapi bukan rocker. Lebih ke folk-rock, seperti Dalbo. Wah, album Dalbo itu gawat banget. Nggak ada track lemah sama sekali.

Tapi akhirnya lo beneran pernah tampil nyanyi di depan penonton?

Paling waktu SD pelajaran Seni Musik, harus nyanyi di depan kelas. [emoticon dua tangan menutup wajah] Itu lagi belajar lagu “Tondu’ Majâng”, dulu kami nyebutnya Tanduk Majeng. Belakangan nyadar, selain salah nyebut judulnya, gua emang nggak bakat nyanyi. Fals mulu.

Balik ke Trocoh, kenapa bait-bait pertama “Loop” dari Pere Ubu jadi pembuka buku?

Gua suka banget Pere Ubu, terutama album-album awal. Di album The Art of Walking itu bahkan lagi ada Mayo Thompson. Hal-hal di dunia tuh bisa teratur banget mirip clocks, bergerak gitu-gitu aja, ajeg dengan modus tertentu. Atau, bisa juga kayak clouds, nggak ketebak kapan/ke mana bakal berpindah. Hidup ini sebetulnya cuma mengulang-ulang aja, termasuk mengulang kesalahan. Seperti loop yang kita nggak pernah bisa sepenuhnya keluar hidup-hidup dari situ, meski kita pikir udah. Secanggih apa pun kita pikir tentang diri kita, selera kita, semua langkah dan ilusi ini, ujung-ujungnya selalu ada perangkap baru tapi lama di depan sana. Dan rumput tetangga bakal selamanya lebih hijau, makanya track terakhir di buku sengaja lagunya The Shaggs. Apa hubungannya a swarm of gnats sama a pile of rocks? Mungkin emang nggak ada! Atau, jangan-jangan ada? Pas ngobrol di IG Live Kios Ojokeos, Cholil jeli nangkep sesuatu yang menurut dia saripati dari Trocoh, satu kalimat di naskah “John & Don”. Wah, naskah itu emang ruh dari buku ini.

Kenapa naskah itu ruhnya, bung?

Bahwa hal-hal sering terlihat sambung-menyambung, seolah direkatkan oleh lem raksasa yang tak kasat mata. Risikonya jadi sering dikira othak-athik gathuk, padahal nggak sesederhana itu. Ini permainan yang serius. Cholil mengutip bagian lain dari naskah itu, soal digression.

Gue melihat tulisan-tulisan di Trocoh banyak berupa padu-padan ingatan yang ditelusuri dan diselidiki.

Selama menelusuri (atau kalau Heru Sutimbul, “menyelikidi..”) sesuatu itu kan kita bisa nyasar dan nggak dapet apa-apa, atau malah ketemu harta karun. Atau ngerasa dapet sesuatu, padahal semu. Ya nggak papa. Mungkin harus dengerin dulu The Shaggs sealbum-album. Gua seneng begitu tau judul-judul di halaman Daftar Isi di-bold sama Meicy Sitorus, desainer bukunya, karena sesuai perkiraan (prakiraan!) gua, tintanya pasti bakal tembus ke halaman sebaliknya, yang ada epigraf dari lirik Pere Ubu tadi itu. Jadinya malah seperti berdesak-desakan mengerubungi kutipan itu.. mirip gnats! Ada banyak kode di buku ini, angka-angka tersembunyi, huruf-huruf di halaman tertentu yang kalau disusun ke bawah akan terbaca sesuatu, dsb., dst.

Aih, permainan-permainan bahaya… semacam gerakan tanpa bola mungkin ya?

[emoticon kepala miring tertawa berair mata] Denah lapangan dan peta perjalanannya sih udah gua buang. Hehehe. Bring your own maps.

Menurut lo, menulis itu susah atau tidak?

Susah. [emoticon tertawa hingga berair mata] Gawat juga sih ya, lancar menulis jika dan hanya jika si penulis suka temanya [emoticon kedua tangan menutup muka]. Tapi begitu udah nemu ritmenya, biasanya emang jadi lebih gampang. Naskah piring terbang dan Sujud Kendang misalnya, itu gampang. Yang rada susah, “Punk Pink Ponk!”, karena nggak tau musti berhenti di mana, jadi terpental-pental alurnya.

Lo kalau nulis sambil ngemil apa, bung?

Wkwkwkwk

Ini serius bung.. karena buat gue nulis itu susah… :))

Keripik singkong.. Buah mangga.. Kalau nulis, lu biasanya sambil dengerin lagu atau tanpa lagu?

Tanpa lagu.

Tosss!

Soal arsip majalah, setau gue lo banyak banget ngumpulin majalah… Apa yang paling dahsyat dari majalah buat lo?

Mereka itu internet sebelum internet. Sekarang kalau buka-buka lagi majalah lama, banyak informasi di dalam kepala yang tiba-tiba nyambung dengan sendirinya. “Ooo, ternyata itu tuh gini ya.. Wah, berarti ini tuh gitu dong? Ya ya ya, semua jadi lebih masuk akal sekarang…” Semacam itu. Menjalar ke mana-mana, mirip hujan hyperlink yang terus bermunculan di layar monitor di dalam kepala, berpendar-pendar.

Kalau dari penyampaian, di satu edisi majalah kan bisa ada macam-macam cara penyampaian, gaya tulisan, buat lo majalah masih seru gak untuk konteks hari ini?

Masih. Sampai sekarang gua masih langganan majalah Mojo. OK, mungkin itu spesifik musik dan mirip-mirip isinya, tapi tetep seru bacanya biarpun temanya sering diulang-ulang. Musik kan emang pengulangan aja, jarang yang betul-betul baru.

Meskipun spesifik musik tetap ada macam-macamnya kan? Ada editor’s note, wawancara, liputan, resensi, kuis mungkin… dan bisa ada yang lain-lain lagi.

Betul. Kadang cuma info-info pendek malah. Di Mojo ada satu rubrik yang sesekali doang munculnya, nggak rutin, namanya “Ask Fred”. Di kolom ini Fred Dellar jawab pertanyaan apa pun soal musik, dari e-mail pembaca ke redaksi, yang kadang emang nggak ada infonya di internet! Ngiler deh bacanya.. Dia juga menulis di beberapa majalah lain. Tapi beberapa bulan lalu dia meninggal. Hiksss.

Gue ngerasa Trocoh ada sentuhan majalahnya. Ada permainan-permainan gimana gitu… Seperti di “Nasihat yang Baik” dan “You’re as useless as a soda truck”.
Mungkin karena gua pembaca majalah. Gua bikin flowchart “Nasihat yang Baik” itu pakai corat-coret tangan di buku tulis, dengan membayangkan bakal dimuat di majalah dan didesain lebih bagus. Majalah imajiner lah ya, tapi di kepala gua mirip Semangat (salah satu majalah favorit gua, terbitan Jogja era late ‘60s early ‘70s, tagline-nya: “Spirit Pemuda Pemudi Dewasa”) terutama ketika formatnya masih ukuran kecil. Belakangan malah ada satu fanzine yang memuat flowchart itu, kebetulan format kecil juga! Ketika itu belum banyak yang bisa bikin flowchart dari lirik lagu, paling cuma “Hey Jude” yang jauh lebih simpel alurnya. Kalau “You’re as useless…” gua pengen teksnya adalah sekaligus sebagai visual. Gua suka majalah TOP dan Aktuil. Teknologi cetak waktu itu kan (mid ‘70s) belum secanggih sekarang. Sering belepotan tintanya, terutama kalau teksnya white on black. Mirip dark mode di layar hp yang barusan jatuh. Error-nya nanggung, rusak tapi belum sepenuhnya remuk.

Juga visual-visual pendukung tulisan dan caption-nya…

Kalau a picture is worth a thousand words, berarti dikasih caption jadi 1000++ dong yah? [emoticon tiga kepala, masing-masing matanya berlambang hati] Di Instagram juga gua lebih suka bikin caption, foto hanya sebagai pemanis.

Kalau yang tanpa caption, favorit gue Igor Tamerlan pakai kaos The Specials di sampul majalah Variasi Putra dan foto “Tgl. Kembali” kartu perpustakaan.

[emoticon ibu jari dan orang menangis] Semua ilustrasi gua foto pakai hp, kecuali “Take-Tombo”, itu pakai toy camera film 35mm. Sekarang toycam-nya udah rusak. Aneh juga ya lu menyejajarkan dua naskah itu. The Specials beken pas gua lahir, sementara kartu “Tgl. Kembali” itu metafora kematian!

Waduh. Setelah Trocoh, lo kepikiran mau bikin buku apa lagi, bung?

Rencana sih ada beberapa. Salah satunya tentang pelawak-pelawak yang kurang terkenal. Atau nggak kunjung terkenal. Mungkin karena emang kurang lucu.

Kurang lebih seperti itukah lo menghayati lawak? Tercermin juga di buku Trocoh

Katanya ketawa itu obat muram kan ya. Dulu waktu kecil, gua sering uji coba cerita-cerita lucu gua ke nyokap. Kalau dia ketawa, wah, bisa nih gua launch ke temen-temen di sekolah! Gua jadi rajin mantengin rubrik-rubrik humor di koran dan majalah…

Untuk lo, lawak atau humor itu lebih banyak untuk obat muram atau obat bosan?

Obat muram. Kalau obat bosan = sok-sokan main detektif-detektifan, melengkapi beberapa pohon informasi (rimpang informasi!) dari serba-serbi pop yang mungkin kurang jelas dan masih bisa diperjelas. Dari kecil gua suka mengkliping majalah, koran, tabloid, tema apa pun yang menurut gua menarik. Belakangan setelah ada internet, gua iseng verifikasi lagi kliping-kliping lama itu, akurat nggak dulu itu ya info-infonya? Begitu juga sebaliknya, kajian di internet tentang artefak-artefak lama, gua kroscek lagi data-datanya ke kliping gua. Proses ulang-aliknya itu yang seru. Ini kerja-kerja standar aja sebetulnya, membaca arsip lama dengan mata baru. Naskah “Adrianoslan Huseilentano” (soal gobbledygook di lirik lagu) itu aslinya sekitar 1.500-an kata lebih panjang dari versi finalnya di buku. Tadinya sempet belok-belok dulu pembahasannya ke film-film Indonesia favorit gua dari dekade 1950-an. Kocak-kocak mereka itu kan, hampir selalu ada musik dan humornya. Debut Nja’ Abbas Akup misalnya, Heboh (1954), opening titles-nya cerdas. Nama-nama kerabat kerja ditampilkan di situ pakai teknologi analog, tapi logikanya mirip teknologi animasi! Mungkin tulisan gua itu malah jadi bertele-tele.

Semacam prog-rock dalam wujud teks? 🙂

Lebih ke konser postpunk set panjang :)) Kata Rani yang selalu jadi pembaca pertama, draft awal itu kepanjangan, “Eneg nih bacanya!” Hahaha.. Itu review paling jujur. Ugh, suka deh.. [emoticon kepala dengan dua mata berbentuk hati] Ya udah, tinggal copot bahasan filmnya, beres.

Tentang setiap naskah tanpa spasi alinea sampai akhir, itu ceritanya gimana?

Katanya kan, eh bener nggak nih, fungsi pergantian paragraf itu salah satunya untuk menggambarkan perpindahan ke pokok pikiran berikutnya. Gua nggak bisa milah-milah pokok pikiran itu di tulisan-tulisan gua. Mungkin lebih ke nggak mau. Gimana kalau disatuin aja? Atmosfer berdesak-desakannya sih gua rasa malah lebih kena. Penerbit baNANA mengerti itu. Thank you, baNANA! [emoticon hati bersinar-sinar]

Gue sih merasa itu OK.

Tadinya malah mau diilangin sekalian aja judul-judulnya. Semua naskah direndengin jadi satu, ‘pemisah’-nya biarlah halaman ilustrasi aja. Satu buku utuh isinya satu paragraf doang. Tapi mungkin itu berlebihan.

Masing-masing naskah dijudulin enak kok.

Pernah ada pembaca kirim DM, dia cerita kalau bacanya longkap-longkap, nggak urut. Milihnya acak, dari lihat-lihat sekilas deretan judul di daftar isi. Trus dia bilang, “Tapi dari judul-judulnya nggak tergambar juga sih isinya!” [emoticon tiga kepala miring tertawa sambil menangis]

Ahahaha. Trocoh bikin merchandise topi dong bung.. saya mau beli…

Wah, boljug tuh. Kemarin ada temen sampai bikin satu topi khusus, gara-gara baca soal topi-topi Gombloh di Trocoh. Trus dia ngasih nomor kontak tukang bordirnya ke gua. Bisa kali ya?

Bisa apa tuh?

Bisa bikin topi Trocoh di dia! [emoticon tertawa sampai menangis]

Wuihhh… Trocoh nich 🙂

:))

Lama-lama gawat juga nih Trocoh, nanti bisa jadi kata sifat… dia anaknya Trocoh banget…

Di Solo dan sekitarnya, kata ‘trocoh’ itu artinya atap bocor di waktu hujan. Ternyata di daerah lain seperti Jatim misalnya, ‘trocoh’ itu bisa juga berarti mulut bocor, alias cerewet, nyerocos terooosss. Gua malah baru tau!

Oh, gitu…

Waktu baNANA tertarik pengen nerbitin “Seri Nggambleh” dari blog gua untuk dijadiin buku, gua langsung mikir judulnya musti lain. Istilah ‘nggambleh’ kalau di bahasa Jawa artinya kira-kira membual, omong-kosong, kurang lebih semacam itu. Belakangan baru nyadar, ‘trocoh’ dan ‘nggambleh’ itu kan ya sebelas dua belas! Penerbit baNANA minta 40 naskah, boleh naskah lama, boleh naskah baru. Gua minta waktu buat milih-milih, sambil mikirin benang merahnya, mungkin soal musik dan ingatan? Menurut mereka Trocoh ini lebih ke kisah-kisah perjumpaan. Soal format buku yang gua pengen cuma ada satu paragraf doang per judul, juga no italics kecuali untuk penekanan ekspresi dan judul buku/album/film, itu gua sampai ngirim email panjang ke penerbit, sok-sokan ngejelasin (((konsep)))nya, terutama soal melantur, melompat, bla bla bla.. Untunglah baNANA setuju. Setelah dipikir-pikir lagi sekarang, email gua itu, ya ampun, apasiihhh…

Lo bawa-bawa nama Yoko Ono gak tuh buat jelasinnya? :))

[emoticon tiga kepala miring tertawa sampai menangis] Lebih ke Yoko dan Bibi Lung!

 

* * *

 

 

More Stories
hara Kebun Terakhir
hara Merilis “Kebun Terakhir”